Pendahuluan
Sifat-sifat Allah WAJIB diisbatkan, iaitu difahami, diyakini, dan ditetapkan tanpa ragu.
Isbat sifat-sifat ini bukan pilihan, bahkan jalan untuk mengenali Allah.
Tanpa isbat sifat:
-
Tauhid menjadi kabur
-
Syahadah menjadi lafaz tanpa makna
-
Pengenalan terhadap Allah menjadi kosong
Maksud Perkataan “Sifat”
Dalam bahasa Melayu, perkataan “sifat” merujuk kepada kualiti, ciri, atau keadaan yang membezakan sesuatu daripada yang lain.
Penggunaan perkataan sifat merangkumi beberapa konteks:
-
Ciri Peribadi (Personality Traits)
Contoh: sabar, amanah, jujur -
Ciri Fizikal (Physical Properties)
Contoh: sifat air yang mengalir, sifat api yang panas -
Istilah Agama (Teologi)
Digunakan untuk menerangkan kesempurnaan Tuhan, seperti Sifat 20 bagi Allah -
Tatabahasa (Kata Sifat / Adjectives)
Perkataan yang menerangkan keadaan kata nama
Dalam bahasa Inggeris, sifat boleh diterjemahkan sebagai:
attributes, qualities, atau characteristics, bergantung kepada konteks.
Sifat 20 dan Asma’ul Husna
Dalam Islam, Sifat 20 dan Asma’ul Husna (99 Nama Allah) saling berkaitan tetapi tidak sama fungsinya.
1️⃣ Sifat 20 (Sifat Wajib Allah)
-
Merupakan rumusan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama‘ah
-
Dikemukakan oleh dua imam besar:
-
Imam Abu al-Hasan al-Asy‘ari
-
Imam Abu Mansur al-Maturidi
-
-
Bertujuan:
-
Menetapkan kesempurnaan Allah
-
Menolak sifat mustahil bagi Allah
-
Memelihara aqidah daripada penyelewengan
-
2️⃣ Asma’ul Husna (99 Nama Allah)
-
Nama-nama Allah yang datang secara nas daripada al-Qur’an dan Hadis
-
Setiap nama mengandungi satu atau lebih sifat
-
Digunakan dalam:
-
Zikir
-
Doa
-
Pujian
-
Pengabdian
-
- Ar-Rahman: Maha Pemurah
- Ar-Rahim: Maha Penyayang
- Al-Malik: Maha Pemerintah / Raja
- Al-Quddus: Maha Suci
- As-Salam: Maha Sejahtera
- Al-Mu’min: Maha Melimpahkan Keamanan
- Al-Muhaimin: Maha Memelihara
- Al-Aziz: Maha Perkasa
- Al-Jabbar: Maha Gagah
- Al-Mutakabbir: Maha Megah
- Al-Khaliq: Maha Pencipta
- Al-Bari’: Maha Menjadikan
- Al-Musawwir: Maha Membentuk Rupa
- Al-Ghaffar: Maha Pengampun
- Al-Qahhar: Maha Menundukkan
- Al-Wahhab: Maha Pemberi
- Ar-Razzaq: Maha Pemberi Rezeki
- Al-Fattah: Maha Pembuka
- Al-‘Alim: Maha Mengetahui
- Al-Qabidh: Maha Menyempitkan
- Al-Basit: Maha Melapangkan
- Al-Khafid: Maha Merendahkan
- Ar-Rafi’: Maha Meninggikan
- Al-Mu’izz: Maha Memuliakan
- Al-Mudhill: Maha Menghinakan
- As-Sami’: Maha Mendengar
- Al-Basir: Maha Melihat
- Al-Hakam: Maha Menetapkan Hukum
- Al-‘Adl: Maha Adil
- Al-Latif: Maha Lembut
- Al-Khabir: Maha Waspada / Mengenal
- Al-Halim: Maha Penyantun
- Al-‘Azim: Maha Agung
- Al-Ghafur: Maha Pengampun
- Ash-Shakur: Maha Bersyukur / Menghargai
- Al-‘Aliyy: Maha Tinggi
- Al-Kabir: Maha Besar
- Al-Hafiz: Maha Memelihara
- Al-Muqit: Maha Memberi Keperluan
- Al-Hasib: Maha Menghisab
- Al-Jalil: Maha Luhur
- Al-Karim: Maha Pemurah / Mulia
- Ar-Raqib: Maha Mengawasi
- Al-Mujib: Maha Mengabulkan
- Al-Wasi’: Maha Luas
- Al-Hakim: Maha Bijaksana
- Al-Wadud: Maha Pencinta
- Al-Majid: Maha Mulia
- Al-Ba’ith: Maha Membangkitkan
- Ash-Shahid: Maha Menyaksikan
- Al-Haqq: Maha Benar
- Al-Wakil: Maha Berserah / Penjaga
- Al-Qawiyy: Maha Kuat
- Al-Matin: Maha Teguh
- Al-Waliyy: Maha Melindungi
- Al-Hamid: Maha Terpuji
- Al-Muhsi: Maha Mengira
- Al-Mubdi’: Maha Memulai
- Al-Mu’id: Maha Mengembalikan
- Al-Muhyi: Maha Menghidupkan
- Al-Mumeet: Maha Mematikan
- Al-Hayy: Maha Hidup
- Al-Qayyum: Maha Berdiri Sendiri
- Al-Wajid: Maha Penemu
- Al-Majid: Maha Mulia
- Al-Wahid: Maha Tunggal
- Al-Ahad: Maha Esa
- As-Samad: Maha Diperlukan
- Al-Qadir: Maha Berupaya
- Al-Muqtadir: Maha Berkuasa
- Al-Muqaddim: Maha Mendahulukan
- Al-Mu’akhkhir: Maha Mengakhirkan
- Al-Awwal: Maha Awal
- Al-Akhir: Maha Akhir
- Az-Zahir: Maha Nyata
- Al-Batin: Maha Tersembunyi
- Al-Wali: Maha Memerintah
- Al-Muta’ali: Maha Tinggi
- Al-Barr: Maha Penderma
- At-Tawwab: Maha Penerima Taubat
- Al-Muntaqim: Maha Pemberi Balasan
- Al-‘Afuww: Maha Pemaaf
- Ar-Ra’uf: Maha Pengasih
- Malikul-Mulk: Pemilik Kedaulatan Abadi
- Dhul-Jalali wal-Ikram: Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
- Al-Muqsit: Maha Adil
- Al-Jami’: Maha Mengumpulkan
- Al-Ghaniyy: Maha Kaya
- Al-Mughni: Maha Mengayakan
- Al-Mani’: Maha Mencegah
- Ad-Darr: Maha Mendatangkan Mudarat
- An-Nafi’: Maha Memberi Manfaat
- An-Nur: Maha Cahaya
- Al-Hadi: Maha Pemberi Petunjuk
- Al-Badi’: Maha Pencipta Indah
- Al-Baqi: Maha Kekal
- Al-Warith: Maha Pewaris
- Ar-Rashid: Maha Bijaksana / Memimpin
- As-Sabur: Maha Sabar
Perbezaan Utama
| Aspek | Sifat 20 | Asma’ul Husna |
|---|---|---|
| Kategori | Sifat (Attributes) | Nama (Names) |
| Tujuan | Mengukuhkan aqidah | Zikir & doa |
| Hubungan | Keadaan bagi ZAT Allah | Sebutan bagi ZAT yang memiliki sifat |
Kesimpulan ringkas:
Sifat 20 membina kefahaman tauhid,
Asma’ul Husna menghidupkan hubungan ibadah.
Sifat Wajib dan Sifat Mustahil
Dalam ilmu tauhid:
-
Setiap Sifat Wajib mempunyai
-
Sifat Mustahil sebagai lawannya
Para ulama Ahlus Sunnah menyusun 20 Sifat Allah kepada empat kategori berikut:
1️⃣ Sifat Nafsiyah (Berkaitan ZAT Allah)
-
Wujud (Ada)
↔ ‘Adam (Tiada)
2️⃣ Sifat Salbiyah (Menafikan Kekurangan)
-
Qidam (Tiada permulaan)
↔ Huduth (Baharu) -
Baqa’ (Kekal)
↔ Fana’ (Binasa) -
Mukhalafatuhu lil-Hawadith
(Berbeza daripada makhluk)
↔ Mumathalatuhu lil-Hawadith (Menyamai makhluk) -
Qiyamuhu bi-Nafsihi
(Berdiri sendiri, tidak berhajat)
↔ Ihtiyajuhu ila Ghairihi (Berhajat kepada selain-Nya) -
Wahdaniyyah (Esa)
↔ Ta‘addud (Berbilang)
3️⃣ Sifat Ma‘ani (Sifat yang Ada pada ZAT)
-
Qudrah (Berkuasa)
↔ ‘Ajz (Lemah) -
Iradah (Berkehendak)
↔ Karahah (Terpaksa) -
‘Ilmu (Mengetahui)
↔ Jahl (Jahil) -
Hayat (Hidup)
↔ Maut (Mati) -
Sama‘ (Mendengar)
↔ Summ (Tuli) -
Basar (Melihat)
↔ ‘Umy (Buta) -
Kalam (Berkata-kata)
↔ Bukm (Bisu)
4️⃣ Sifat Ma‘nawiyah
(Keadaan yang Melazimi Sifat Ma‘ani)
-
Kaunuhu Qadiran
(Keadaan-Nya Maha Berkuasa)
↔ Kaunuhu ‘Ajizan -
Kaunuhu Muridan
(Keadaan-Nya Maha Berkehendak)
↔ Kaunuhu Mukrahan -
Kaunuhu ‘Aliman
(Keadaan-Nya Maha Mengetahui)
↔ Kaunuhu Jahilan -
Kaunuhu Hayyan
(Keadaan-Nya Maha Hidup)
↔ Kaunuhu Mayyitan -
Kaunuhu Sami‘an
(Keadaan-Nya Maha Mendengar)
↔ Kaunuhu Asamma -
Kaunuhu Basiran
(Keadaan-Nya Maha Melihat)
↔ Kaunuhu A‘ma -
Kaunuhu Mutakalliman
(Keadaan-Nya Maha Berkata-kata)
↔ Kaunuhu Abkama
Penutup (Penegasan Aqidah)
Jangan tergesa-gesa dalam memahami perkara ini.
Allah ialah ZAT,
bukan sesuatu.
👉 Jika sesuatu, ia adalah objek.
👉 Jika objek, ia boleh dibatasi, diukur, dan digambarkan.
Allah tidak demikian.
Allah bukan sesuatu, sebab itu Dia dipanggil ZAT.
Jika sesuatu, ia tidak dipanggil ZAT.
Zat ialah makna subjek, bukan objek.
Di sinilah syahadah difahami, bukan sekadar diucap.


Jazakallah!